Bagi masyarakat yang ingin menyampaikan pesan singkat berupa saran, kritikan, dan pengaduan pelayanan perizinan, silahkan sms melalui layanan pengaduan ini. Terimakasih.
 
 
Username :
Password :
 
 

 

Wasiat Alm Tenas Efendi Kepada Syamsuar, Jaga Adat Istiadat dan Kebudayaan Melayu

Selasa, 12 September 2017

RiauKepri.com, PEKANBARU– Sekitar sebulan sebelum wafatnya tokoh masyarakat Riau, Tenas Effendi, ternyata berwasiat kepada Datuk Sri Setia Amanah, Drs H Syamsuar MSI. Apa wasiatnya? Kisah wasiat Tenas Effendi ini diceritakan Syamsuar saat dia bersilaturahmi dengan pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), di Gedung LAMR Jalan Diponogoro, Pekanbaru, Senin (11/9/2017). Syahdan. Suatu ketika Syamsuar diminta Tenas Effendi untuk datang ke rumahnya, ketika itu Syamsuar sudah memimpin Kabupaten Siak untuk priode kedua. Jemputan dari Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAM Riau, itu penuhi Syamsuar.

Dalam pembicaraan dengan Tenas Effendi, cerita Syamsuar, alharhum berharap kepada dirinya agar Siak dipelihara dan dijaga adat istiadatnya. Selain itu, suami Hj Misnarni ini juga diminta melestarikan Kebudayaan Melayu, termasuk bagaimana mensyiarkan Islam di Siak.

Semula Syamsuar tak tau bahwa itu adalah wasiat dari Tenas Effendi memandang Riau ke depan, namun setelah sebulan pertemuan itu Tenas Effendi pun meninggal dunia.

“Setelah saya merenungkannya, sara merasa itulah wasiat Almarhum Pak Tenas kepada saya. Pandangan dia jauh ke depan, karena dia memandang hanya Siak yang terpelihara dalam adat istiadat dan kebudayaan Melayu,” kata Syamsuar.

Sebagai anak jadi diri Melayu, ucap Syamsuar, dia harus menunaikan wasiat itu dan harus menjaga semua pesan yang telah disampaikan. Apalagi seorang pemimpin itu harus berpegang pada adat bersendi syarak, syarak bersendikan kitabullah.

Karenanya, kata Syamsuar, dalam visi dan misinya memimpin Siak maka tidak pernah lepas atau meninggalkan terhadap budaya Melayu. Tak hanya itu, agar visi dan misi ini berjalan Syamsuar mempersiapkannya dengan produk hukum lokal, Peraturan Daerah (Perda), sebagai konsep pengembangan budaya Melayu itu sendiri.

Perda nomor 1 tahun 2016, kata Syamsuar, di antaranya berisikan peraturan tentang pelestarian Kebudayaan Melayu. Di Perda ini juga mengatur tentang pelestarian sikap orang Melayu yang sopan santun.

Upaya lainnya untuk melestarikan kebudayaan Melayu di Siak, saat ini Siak masuk dalam jaringan Kota Pusaka Indonesia.

“Siak khususnya dan Riau pada umumnnya adalah negeri yang penuh rahmad dari Allah, hal ini bisa dilihat dari SDA yang ada di masing-masing daerah di Riau ini,” ungkap Syamsuar.

Dalam Perda nomor 1 tahun 2016 itu juga ada pelestarian makanan dan minuman, dan di Riau ini menurut Syamsuar cukup banyak kulinir khas Melayu cuma tidak dikemas dan dipromosikan dengan baik.

“Dengan adanya Perda itu kami berupaya bagaimana di Siak menjadi induk pelestarian Budaya Melayu, dan kami ingin Siak menjadi rahmatan lil ‘alamin,” ungkap Syamsuar.

Saat ini, beber Syamsuar, juga sudah ada 6 pondok tafizh di Siak, dan bekas kerajaan Melayu Islam ini juga punya target 1.000 hafizh dan hafizhah. “Alhamdulillah saat ini sudah tercatat 961 anak-anak Siak generasi masa depan yang hafal Al qur’an,” ucap Syamsuar. Sementara memandang Riau dan Melayu ke depan, kata Syamsuar, harus ada gerakan. “Kita bisa mencontoh di bandara Yogya, begitu juga ketika naik pesawat, copilot mengumumkan dalam bahasa Inggris dan Jawa. Kenapa di Riau tidak melakukannya, kalau pihak bendara di Riau tidak mau, kita buat BUMD sendiri sehingga kita bisa melakukan hal itu,” kata Syamsuar dan hal ini disambut dengan tepuk tangan.

Persoalan Riau ke depan, sambung Syamsaur, yakni peremajaan sawit karena ini salah satu sumber pendapatan terbesar di Riau. Sementara setelah 25 tahun usia sawit tidak boleh lagi ditanam sawit di tanah gambut.

Masalah Riau ke depan ini, Syamsuar punya solusinya. Yakni, di kebun sawit bisa ditanam kopi dan coklat karena pertanian ini membutuhkan tumbuhan pelindung dan sawit bisa menjadi pelindung.

Selain masalah pertanian harus menjadi perhatian serius, perikanan juga harus demikian. Luasnya wilayah Riau yang lebih besar laut dari daratan hal ini menjadi anugrah tersendiri untuk pengembangan perikanan dengan membuat tambak ikan.

Di samping dua hal tersebut, Riau juga potensi dalam pembangunan pariwisata. Namun selama ini dikemas asal jadi. Padahal ekonomi kreatif itu bangkit dari dunia pariwisata. (hidayat)

1. Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP)
2. Izin Mendirikan Rumah Sakit
3. Izin Operasional Rumah Sakit
4. Izin Toko Obat
5. Izin Apotek
6. Izin Klinik
7. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
8. Tanda Daftar Gudang (TDG)
9. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
10. Tanda Daftar Industri (TDI)
11. Izin Usaha Industri (IUI)
12. Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
13. Izin Gangguan (HO)
14. Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional (IUJKN)
15. Izin Lokasi
16. Izin Penggunaan Pemanfaatan Tanah (IPPT)
17. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
18. Izin Pengusahaan Penangkaran Sarang Burung Walet
19. Izin Usaha Perkebunan (IUP)
20. Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P)
21. Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B)
22. Izin Prinsip Penanaman Modal
23. Izin Usaha Penanaman Modal
24. Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI)
25. Izin Usaha Pusat Perbelanjaan (IUPP)
26. Izin Usaha Toko Modern (IUTM)
27. Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW)
28. Izin Pembangunan Pelabuhan Pengumpan Lokal
29. Izin Pembangunan dan Pengoperasian Pelabuhan Sungai dan Danau
30. Izin Trayek
31. Perpanjangan IMTA
32. Ketetapan SPPL
33. Ketetapan UKL-UPL
34. Ketetapan KA-ANDAL
35. Ketetapan AMDAL
36. Izin Lingkungan
37. Izin Pengendalian Pembuangan Limbah Cair
38. Izin Penyimpanan Limbah B3 Sementara
39. Izin Pemanfaatan Air Limbah Industri Minyak Sawit pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit (Land Application)